Monday, January 3, 2011

Membesarkan Anak Vegetarian

oleh Kathy Snow Gullermo
Ketika anak perempuan saya, Jilly, masih bayi, dia tidak pernah menderita colic (mulas/sakit perut pada bayi), infeksi telinga, flu, atau penyakit serius lainnya. Anak laki-laki saya, Dash, juga mengikuti contoh kakaknya. Teman-teman saya berpikir bahwa saya hanya beruntung, tetapi sesungguhnya semua ini terjadi karena pola makan anak-anak saya.
Keputusan saya untuk membesarkan anak-anak saya dengan pola makan vegan telah mengusik seluruh keluarga saya. “Mereka akan menjadi sakit dan kurus kering,” kata mereka. Tetapi faktanya, saya telah memberi permulaan hidup yang lebih baik kepada anak-anak saya. Saya mengakui bahwa pada awalnya saya memiliki keragu-raguan. Memang benar, saya telah menjadi vegan selama bertahun-tahun. Tetapi bukankah anak-anak berbeda? Saya tahu bahwa banyak penyakit yang dialami orang dewasa seperti kanker, jantung, dan stroke berakar dari pola makan daging. Tetapi bagaimana dengan bayi? Ternyata jawabannya sangat mengejutkan saya. Konsumsi susu sapi pada anak-anak terkait dengan asma, alergi, pendarahan pada usus, bahkan diabetes pada anak-anak!
Dokter anak saya juga skeptis pada awalnya. (Ketika anak perempuan saya mulai belajar memakan makanan padat, dokter saya berkata, “Campurkan daging dengan buah-buahan untuk menyamarkan rasanya. Bayi saya tidak suka daging karena daging terasa mati bagi mereka.”) Tetapi bagaimanapun juga, saya mendapatkan konfirmasi dari konsultan nutrisi anak saya: Anak-anak tidak tergantung pada produk hewani, mereka dapat tumbuh lebih baik tanpa produk hewani! Konsultan nutrisi tersebut memberikan saya kepercayaan diri dan instruksi-instruksi yang mudah untuk saya ikuti. Berikut adalah hal-hal yang saya pelajari:
• Bayi yang disusui dengan ASI (Air Susu Ibu) jauh lebih sehat dan bahagia daripada bayi yang disusui dengan susu formula. Banyak bayi yang menangis tidak henti-hentinya karena mulas ternyata disusui dengan susu yang berasal dari sapi. Saya telah menyalurkan proteksi dan kekebalan tubuh saya melalui ASI, dan sejak saya menjadi vegan, saya tidak menyalurkan pestisida yang terkonsentrasi tinggi dari dalam tubuh hewan. Saya bahkan juga menurunkan risiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome—Sindrom kematian mendadak pada bayi) yang umumnya terjadi pada bayi yang disusui dengan susu formula.
• Apabila Anda tidak dapat memberikan ASI, susu formula dari kedelai jauh lebih mudah diterima oleh sistem pencernaan bayi daripada susu formula dari sapi. Dan susu formula seperti ini telah tersedia dalam bentuk bubuk ataupun cair.
• Anak-anak saya tidak pernah mengalami masalah dengan protein, kalsium, atau zat besi. Kebanyakan anak-anak dan orang dewasa memakan terlalu banyak protein, dan karena mereka mendapatkannya dari produk hewani, mereka juga memasukkan lemak-lemak yang dapat menyumbat pembuluh darah ke dalam tubuh mereka. Sebenarnya terlalu banyak mengonsumsi protein dapat menyebabkan tubuh kita kehilangan kalsium, karena itu memengonsumsi susu sapi adalah cara yang sangat kurang efektif untuk menguatkan tulang.
Setiap hari, anak-anak saya membuktikan bahwa saya benar. Anak perempuan saya sekarang telah berumur 6 tahun. Dia tinggi, kuat, dan juga atletis. Dia mulai bermain sepak bola sejak berumur 18 bulan dan mengambil kelas menari sejak berumur 3 tahun. Dia tidak pernah menderita bronchitis ataupun infeksi tenggorokan. Saat ini adiknya juga mengejutkan dokternya dengan kenaikan berat badannya yang sangat baik.
Masih ada keuntungan lainnya. Sekarang anak perempuan saya telah cukup besar untuk mengerti bahwa hamburger dulunya adalah seekor sapi dan drumstick (paha ayam goreng) dulunya adalah seekor ayam. Dia merasa sangat senang bahwa dia telah ikut menjalankan perannya untuk menghentikan kekejaman terhadap hewan.
Referensi :
http://www.infovegetarian.net/gizi/membesarkan-anak-vegetarian.htm

Vegetarian tapi kolesterol, tinggi ?

Rate This
Quantcast
pertanyaan :
  1. mengapa saya bervegetarian masih memiliki kolesterol yang tinggi, bukankah makan vegetarian tidak mengandung kolesterol sama sekali (hanya ada di daging) ?
  2. apakah fungsi kolesterol ?
  3. apakah ada menu makanan vegetarian sehari-hari yang dapat menurunkan kolesterol ?
  4. dapatkan kadar kolesterol saya turun normal dengan menu makanan tertentu
jawab :
1) Kolesterol merupakan suatu substansi yang seperti lilin yang berwarna putih dan dihasilkan dari jaringan tubuh hewan dan tidak terdapat sama sekali pada tumbuhan. Kolesterol didapat dari 2 sumber sebagai berikut :
a)  tubuh sendiri : sekitar 1000 mg kolesterol diproduksi oleh hati setiap hari tergantung jumlah yang dimakan. Produksi kolesterol dalam tubuh sebenarnya sudah mencukupi kebutuhannya dan tidak perlu diperoleh lagi dari makanan. Beberapa hal khusus yang dapat meninggikan produksi kolesterol seperti :
- kegemukan.
- faktor keturunan yang menyebabkan kelainan metabolisme kolesterol.
- beberapa keadaan khusus seperti: diabetes mellitus, penyakit ginjal dan thyroid.
b)    makanan : terutama dari makanan hewani seperti : kuning telur, susu, keju, cream dll.
Selain itu beberapa faktor yang juga dapat merangsang pembentukan kolesterol seperti :
tipe lemak : jumlah lemak jenuh (minyak hewan, minyak kelapa sawit) yang dikonsumsi adalah faktor utama yang meningkatkan kolesterol darah.Gunakanlah minyak goreng yang tidak jenuh seperti minyak jagung, minyak kacang kedelai, minyak biji bunga matahari dan jangan menggoreng terlalu sering, cukup 1-2 kali dan tidak terlalu panas dan gunakan secukupnya saja.
-          jumlah makanan yang dikonsumsi : kelebihan konsumsi makanan akan meninggikan kolesterol darah.
-          serat : serat pada makanan nabati dapat membantu menurunkan absorbsi kolesterol di usus. Serat banyak dtemukan pada makanan nabati.
-           cara makan : memakan sedikit tapi sering menghasilkan kolesterol yang lebih sedikit dibanding 1-2 makan dengan makanan yang banyak sekaligus.
-          konsumsi gula dan garam yang berlebihan.
-           stress: bila tidak diatasi dapat meningkatkan pembentukan kolesterol.
Penurunan kolesterol selain diet dan obat juga dapat dengan berjemur sehingga terjadi perubahan kolesterol yang tersimpan di bawah kulit menjadi vitamin D sehingga kolesterol darah akan diambil kembali untuk mengisinya yang mana akhirnya akan menyebabkan kadarnya dalam darah menjadi turun. Peninggian kolesterol dikaitkan dengan resiko penyakit jantung koroner (PJK) di mana kolesterol kadarnya sebaiknya di bawah 160 mg/liter darah. (Idealnya kadar kolesterol = 100 + umur ). Kadar 240 mg/liter darah akan mengakibatkan 2 x resiko dan 300 mg/liter darah beiesiko 3 x terkena PJK. Selain kolesterol total yang paling perlu .dtperhatikan adalah rasio antara kolesterol total dan HDL yang sebaiknya kurang dari 4,5. HDL adalah kolesterol yag baik yang berfungsi mengangkut kolesterol yang terlanjur mengendap di pembuluh darah kembali ke hati dan setinggi kadarnya dalam darah akan semakin baik. Tetapi bila kadarnya kurang dari 35 mg/liter darah maka akan beresiko serangan jantung. HDL dapat ditingkatkan dengan: olahraga secara teratur, menjaga berat badan ideal, konsumsi minyak kacang kedelai dan menghindari alkohol. Sebaliknya LDL adalah kolesterol jahat yang akan mengendap di pembuluh darah dan menimbulkan atherosklerosis dan sebaiknya kadarnya kurang dari 130 mg/liter darah.
2) Manfaat kolesterol dalam tubuh :
- membentuk setiap dinding sel dalam tubuh.
- pelindung otak dan sistem saraf
-  bahan baku pembentukan vitamin D dalam tubuh.
-  bahan baku pembentukan hormon kelamin dan kelenjar adrenal.
-  membantu penyerapan lemak, vitamin dan mineral dalam usus.
Kebanyakan kolesterol diubah menjadi asam empedu yang melarutkan lemak dalam makanan sehingga memudahkan pencernaan dan penyerapannya.
3)    Protein kacang kedelai dan kacang-kacangan mengandung sterol yang dapat menghambat penyerapan kolesterol dan lecithin yang melarutkan kolesterol. Selain itu beberapa makanan diketahui dapat menurunkan kolesterol seperti oatmeal, yoghurt, dan lidah buaya.
4)    Beberapa petunjuk menu makanan sehari untuk menurunkan kolesterol seperti:
-          konsumsi lemak dalam makanan sehari-hari di bawah 20%.
-          makanlah makanan yang rendah kandungan lemak jenuhnya, khususnya dari makanan nabati.
-          hindari makanan yang kaya kolesterol.
-          makanlah makanan yang dapat menurunkan kolesterol.
Selain itu anda harus menjalani hidup sehat yang lain seperti:
-      olahraga yang teratur.
-      biasakan hidup relaks dan jauhi stress.

Anak Anda Susah Makan Sayuran ?

 
i
 
Rate This
Quantcast
Jika Anda frustasi untuk membuat anak Anda menyenangi sayur dan buah, berikut beberapa tips yang bisa dicoba :
  1. Buatlah gambar sayur dan buah dan ajak anak Anda untuk mewarnainya atau menempelkan stiker pada setiap sayur dan buah yang disantap.
  2. Mungkin anak Anda mempunyai sayuran atau buah yang digemarinya. Sediakanlah sesering mungkin, sesekali dikombinasikan dengan sayuran atau buah yang lain.
  3. Legum (kelompok kacang-kacangan) sangat berguna bagi vegetarian, karena mengandung protein dan serat. Banyak diantaranya yang mengandung zat besi. Selain itu anak-anak juga sangat menggemari kacang-kacangan.
  4. Tahu biasa atau tahu Jepang (tofu) adalah produk dari legum dan banyak tersedia di pasar dan super­market. Campurkan sedikit tahu atau tofu pada puding, saus, es krim, atau makanan lainnya. Jika Anda memiliki sisa tahu, rendamlah dalam air paling lama satu minggu. Simpan dalam lemari es dan ganti airnya setiap hari.
  5. Menurut Asosiasi Diet Amerika (Ameri­can Dietetic Association), selama makan makanan bergizi, kite tak perlu khawatir untuk mengkombinasikan makanan agar memperoleh gizi yang lengkap. Jangan ragu untuk menyajikan salad sayur atau salad buah untuk makan siang, boleh diganti dengan roti batangan atau biskuit rendah kalori.
Referensi : Majalah Info Vegetarian/ed I/Agust 1998

Darimana Daging Berasal?

Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi pernahkah Anda benar-benar memikirkannya? Mungkin banyak dari Anda yang hanya mengenal ayam goreng, bakso, hamburger, sate, dan banyak hidangan-hidangan daging lainnya yang sudah dalam bentuk akhirnya yang menggugah selera di meja makan Anda.  
Tetapi pikirkanlah sekali lagi bahwa hidangan-hidangan itu dulunya adalah individu-individu hidup yang harus menderita sejak mereka lahir sampai dengan hari pembantaiannya. Bukalah mata Anda, lihatlah apa yang terjadi di peternakan modern saat ini, lihatlah apa yang terjadi setiap harinya di rumah-rumah pemotongan hewan. Semua penderitaan yang seharusnya tidak perlu terjadi itu ada hanya untuk memuaskan nafsu sepotong lidah.  
Saat ini, dimana permintaan akan daging sapi sangatlah tinggi, banyak peternakan-peternakan kecil yang diganti dengan “pabrik-pabrik sapi” yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar. Sapi-sapi dirantai di sebuah bangsal yang besar dan diperlakukan seperti “mesin penghasil susu”. Untuk meningkatkan produksi, para peternak menyuntik sapi-sapinya dengan hormon pertumbuhan sintetis yang meningkatkan risiko mastitis, sebuah infeksi yang sangat menyakitkan terhadap sapi-sapi tersebut.  
Pada dasarnya sapi menghasilkan susu untuk alasan yang sama dengan manusia: untuk membesarkan anak-anak mereka. Namun yang terjadi saat ini adalah anak-anak mereka langsung diambil beberapa saat setelah dilahirkan. Anak sapi betina langsung dimasukkan ke kelompok penghasil susu atau langsung dibunuh untuk rennet yang ada di perut mereka (rennet digunakan untuk membuat keju.) Ketika susu yang mereka hasilkan mulai berkurang setelah empat tahun, Sapi tadi langsung dibunuh untuk dijadikan burger.  
Bahkan pada peternakan-peternakan kecil, anak sapi jantan yang tidak dibutuhkan akan dijual ke peternak penghasil daging sapi. Anak-anak sapi ini dibesarkan di dalam sebuah kandang yang sangat sempit dan gelap dengan leher dirantai. Amonia yang berasal dari kotoran mereka yang bertumpuk berbau busuk. Mereka bahkan tidak dapat melangkah, berputar, ataupun berbaring dengan nyaman. Yatim piatu dan sendirian, mereka menderita anemia, diarrhea, pneumonia, dan kelelahan tubuh. Hidup mereka dihabiskan sepenuhnya di kandang tersebut. Satu-satunya sinar matahari yang mereka lihat adalah pada saat mereka dalam perjalanan menuju ke rumah penjagalan.  
Ayam-ayam tidak bernasib lebih baik dari sapi. Untuk meningkatkan keuntungan, para peternak menyuntikkan berbagai obat dan hormon, serta melakukan manipulasi genetik pada ayam. Sebagai hasilnya, banyak ayam-ayam yang menderita kesakitan dari kecacatan pada tulang belakang dan pertumbuhan tulang yang tidak normal.  
Satu kandang kecil dapat dijejali hingga tujuh sampai delapan ekor ayam; sayap mereka sudah tidak dapat digunakan lagi, kaki mereka tumbuh dengan bentuk yang tidak normal karena berdiri di atas dasar kandang yang miring dan berlubang.  
Sebuah bangsal dapat diisi sampai dengan 40.000 ekor ayam. Dalam suasana yang penuh sesak seperti ini, ayam menjadi stres, kemudian mereka melepaskan stresnya dengan saling mematuk dan melukai. Untuk mencegah adanya ayam yang mati karena hal ini, peternak memotong paruh anak ayam yang baru lahir dengan pisau yang dipanaskan. Begitu menyakitkanya hal ini sehingga banyak anak-anak ayam yang mati seketika. Sedangkan beberapa lainnya mati karena kelaparan, mereka tidak dapat makan karena luka pada paruh mereka sehingga mengambil makanan menjadi proses yang sangat menyakitkan.  
Setiap tahunnya, peternak ayam tidak membutuhkan ayam jantan dan mereka membunuh jutaan anak ayam jantan dengan memasukkan mereka ke dalam mesin penggiling atau membiarkan mereka mati lemas dalam sebuah kantong kedap udara.  
Kambing, domba, ikan, babi, dan masih banyak hewan ternak lainnya bernasib sama, bahkan ada yang lebih buruk bila dibandingkan dengan sapi maupun ayam. Berhentilah menjadikan perut Anda sebagai kuburan bagi hewan-hewan malang ini. 
Informasi dan investigasi mengenai kekejaman hewan yang lebih mendetail dapat Anda temui pada situs di bawah ini:
http://www.goveg.com/factoryFarming.asp
http://www.goveg.com/photos.asp
http://www.petatv.com
 

 
 

Protein Nabati vs Hewani

Masa pertumbuhan paling penting adalah masa awal kelahiran bayi. Satu-satunya sumber gizi saat itu adalah air susu ibu (ASI). Protein yang terkandung dalam ASI sekitar 5%. Jadi kenyataannya kebutuhan protein manusia di saat pertumbuhan yang terpenting dapat dipenuhi oleh masukan kalori protein sebanyak 5%. Sementara itu perusahaan multinasional yang menjual makanan berprotein tinggi dan mahal seperti daging, telur, dan susu sapi membuat Anda merasa membutuhkan protein lebih banyak dari yang seharusnya.
Meningkatkan 30% kebutuhan protein Anda sama dengan meningkatkan 30% penghasilan mereka. Tidak aneh jika dengan segala cara halal maupun tidak, mereka berusaha membuat Anda percaya bahwa Anda membutuhkan protein lebih banyak lagi. 
Daging, telur, dan ikan merupakan jenis sumber protein yang ber-pH asam. Karena darah perlu dipertahankan dalam pH normal, maka masukan makanan bersifat asam akan dinetralkan oleh mineral basa. Mineral ini adalah kalsium yang akan diambil dari tulang. Jadi konsumsi protein hewani, apalagi dalam jumlah besar akan diikuti dengan pengurasan kalsium pada tulang yang mengakibatkan pengeroposan tulang.
 

 
 

Pertanyaan Paling Sering Ditanyakan

? ??
Bila Anda mengatakan bahwa daging merugikan kesehatan, bukankah tumbuhan juga disemprot dengan pestisida?
Sebaliknya justru pestisida merupakan ancaman serius bagi konsumen daging, Daging mengandung residu pestisida yang jumlahnya lebih tinggi daripada pestisida yang ditemui pada sayuran dan tidak bisa dibersihkan atau dihilangkan melalui proses pencucian seperti layaknya pada sayuran. Hal tersebut terjadi karena pestisida telah menyatu dengan jaringan lemak hewan-hewan yang memakan tumbuhan yang disemprot pestisida tersebut. Inspeksi yang dilakukan GAO (General Accounting Office) AS menemukan 143 jenis obat dan pestisida dalam daging. 42 di antaranya merupakan senyawa pemicu kanker, 20 jenis dapat mengakibatkan kecacatan bayi dalam kandungan, dan 6 jenis penyebab mutasi. 
“Orang-orang yang menghadiri seminar saya sering memborbardir pertanyaan seperti bagaimana mengatasi masalah pestisida dalam sayur dan buah. Mereka tidak pernah mengangkat masalah pestisida dalam daging sapi, ayam, ikan, telur, dan produk-produk susu. Padahal makanan hewani mengandung pestisida sembilan kali lebih tinggi dan tak seorang pun menyadarinya.” —Harvey Diamond 
Bukankah kita membutuhkan protein?
Masalah kita yang sebenarnya sekarang ini adalah terlalu banyak protein, bukan kekurangan protein. Hampir semua makanan yang Anda makan mengandung protein, kecuali Anda hanya memakan junk food setiap harinya. Masih banyak sumber-sumber protein yang lebih sehat, misalnya tahu, tempe, roti gandum, oatmeal, kacang-kacangan, jamur, brokoli dan lain-lain. Sebaliknya terlalu banyak protein, khususnya protein hewani dapat menyebabkan timbulnya kebocoran kalsium melalui air seni yang akan meningkatkan risiko osteoporosis. Selain itu terlalu banyak protein juga dapat memperberat kerja ginjal, yang akhirnya menyebabkan penyakit ginjal. 
Bukankah manusia bisa saja tetap makan daging dan tetap sehat?
Sistem pencernaan manusia sangat fleksibel dan memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Tentu saja manusia bisa mengonsumsi sedikit daging dan tetap sehat. Tetapi bukankah tanpa daging sama sekali justru manusia bisa hidup dengan kesehatan prima? Sangat tidak pantas rasanya hanya untuk memuaskan sepotong lidah tetapi kita ikut andil dalam pengusakan planet ini serta menyebabkan kesakitan dan kematian atas jutaan hewan setiap tahunnya. 
Apa yang akan terjadi pada hewan ternak seperti ayam dan sapi jika semua orang bervegetarian? Bukankah mereka terus berkembang biak? Bukankah dunia ini akan penuh hewan ternak jadinya?
Sangat tidak mungkin apabila seluruh umat manusia dapat berhenti memakan hewan hanya dalam semalam. Penambahan jumlah vegetarian dengan sendirinya akan menurunkan permintaan daging di pasaran. Sejalan dengan hal itu, jumlah hewan yang diternak pun akan menurun secara bertahap. Dengan demikian, para peternak akan mulai berhenti mengembangbiakkan ternaknya dan beralih kepada aktivitas pertanian ataupun perdagangan lainnya. Lagipula cepatnya perkembangbiakkan hewan ternak tidak lepas dari penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan. Tanpa penggunaan obat-obatan tersebut, pertumbuhan hewan ternak tidaklah secepat itu. 
Katanya orang vegetarian lebih pendek dan kurus dari pemakan daging, benarkah hal ini?
Pertumbuhan tinggi dan kuatnya seseorang tidak dipengaruhi vegetarian atau tidak. Jika pola makan mereka seimbang, vegetarian ataupun tidak dapat tetap tumbuh dengan tinggi dan kuat. Anda dapat melihat bahwa hewan-hewan besar seperti gajah, jerapa, sapi, dan lain-lain hanya makan sayur-sayuran dan buah-buahan. Mereka lebih kuat dari karnivora, sangat jinak, dan bermanfaat bagi manusia. Sebaliknya hewan pemakan daging sangat buas dan tidak berguna. Bangsa Eskimo selalu makan daging, apakah mereka lebih tinggi dan kuat? Tentu tidak! Bahkan penelitian menunjukkan bahwa umur rata-rata orang Eskimo pendek. 
Hewan toh juga membunuh untuk makan. Apa salahnya bila kita juga membunuh ayam atau sapi untuk dimakan?
Hewan yang membunuh hewan lainnya tidaklah mempunyai pilihan lain. Mereka harus membunuh makanannya untuk bertahan hidup. Tetapi manusia berbeda. Manusia bisa memilih membunuh sapi untuk dimakan dagingnya atau memilih makan nasi, tempe, sayur,dan buah-buahan. Lagipula mengapa kita harus mengacu pada hewan dalam hal ini, bukankah kita menganggap hewan karnivora seperti singa, harimau, dan buaya sebagai hewan bengis karena membunuh. Mengapa pula kita meniru sifat-sifat buas tersebut? Bukankah kita manusia lebih “berakal budi” dan lebih tinggi derajatnya dari hewan?  
Bukankah tumbuhan juga bisa merasa sakit, dan Anda telah menyiksanya dengan memakan mereka?
Tidak ada alasan untuk percaya bahwa makhluk hidup yang tidak memiliki sistem saraf bisa merasa sakit. Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tumbuhan tidak memiliki sistem saraf. Berbeda dengan manusia dan hewan yang memiliki sistem saraf yang serupa, bahkan ikan sekalipun. Hal tersebut dapat terlihat dengan jelas ketika seekor sapi dan seorang manusia yang kesakitan jika tersayat pisau. Bila Anda cukup jujur terhadap hati nurani Anda, Anda dapat langsung membandingkan bagaimana perasaan Anda saat melihat seekor sapi yang meronta-ronta dan menangis dalam proses penjagalannya dibandingkan dengan melihat sepotong wortel yang sedang dicincang. Tetapi ketiadaan saraf pada tumbuhan juga bukanlah alasan bagi kita untuk mengeksploitasi dan memperlakukan tumbuhan sesuka kita. Sudah menjadi kewajiban kita pula untuk menjaga keseimbangan alam ini dengan baik, bukan mengeksploitasinya untuk keuntungan kita sendiri. 
Bukankah para peternak memberikan kandang yang melindungi ternaknya dari cuaca yang buruk dan predator? Bahkan diberi makan dan minum. Apakah kondisi demikian tidak lebih baik dari kehidupan di alam liar?
Di masa lalu pedagang budak berargumen bahwa orang yang mereka perbudak lebih baik menjadi budak di masyarakat yang beragama dan berbudaya daripada memiliki kemerdekaan di hutan belantara yang kurang berbudaya. Apakah Anda menyetujui hal itu? Peternak mengatakan hewannya lebih menyukai makan tiga kali sehari daripada hidup di alam liar. Padahal istilah “liar” merupakah proyeksi manusia atas daerah yang asing baginya. Liar menurut manusia tidaklah berarti liar bagi hewan di sana. Justru itulah rumah mereka. Tidak logis bila kita berargumen manusia melindungi ternaknya dari predator. Justru kitalah predatornya! Bahkan manusia lebih buruk daripada predator di alam karena dengan segala “akal budinya” manusia dapat menciptakan sistem pengembangbiakan yang bahkan jauh lebih menyiksa hewan-hewan tersebut dalam waktu yang lama sampai akhirnya mereka dibunuh.  
Tetapi tetap saja manusia tak bisa menghindari kenyataan dia melakukan pembunuhan secara sengaja. Bukankah petani membunuh hama dengan sengaja untuk melindungi hasil taninya. Lalu apa bedanya membunuh sapi untuk dimakan dengan membunuh hama untuk melindungi tanaman yang akan kita makan?
Katakanlah semua metode “tanpa kekerasan” untuk menghadapi hama sudah tidak efektif. Tidak ada lagi cara untuk menghalau mereka tanpa mencelakakan mereka. Tetapi tetap saja ada perbedaan jelas antara melindungi diri dan perbuatan yang secara sengaja menyebabkan kelahiran makhluk hidup (misalnya sapi) dan kemudian dibunuh untuk memuaskan nafsu lidah serta kebiasaan makan daging. Katakanlah sekarang saya membunuh bakteri di dalam mulut saya untuk melindungi gigi saya dari kerusakan, apakah menurut Anda perbuatan ini sama dengan membunuh seekor sapi? Seorang manusia waras tidak akan menyamakan perbuatan ini dengan pembunuhan di rumah jagal serta kekejaman industri ternak. Hewan dikebiri tanpa pembiusan, paruh dan cakar dipotong dengan mesin supaya mereka tidak saling mematuk, anak-anak ayam jantan dibunuh dengan disegel dalam kantong plastik dan dibiarkan mati lemas. Sapi-sapi muda dibiarkan kelaparan supaya dagingnya empuk, dan lain sebagainya.  
Saya tidak membunuh hewan yang dagingnya saya makan.
Anda memang tidak membunuhnya, tapi mungkin Anda tidak sadar bahwa Anda menyewa penjagal untuk membunuh mereka. Penjagal berjualan daging karena adanya permintaan terhadap daging. Ketika membeli daging, itu sudah berarti pembunuhan dilakukan atas permintaan dan dibiayai dengan uang Anda. 
Bukankah kita adalah makhluk omnivora yang makan tumbuhan dan juga hewan?
Omnivora adalah predikat yang diberikan setelah melihat pola hidup manusia yang umumnya juga memakan hewan disamping tumbuhan. Tetapi pada dasarnya sudah banyak penelitian-penelitian yang membuktikan bahwa struktur organ pencernaan manusia mulai dari mulut sampai ke usus lebih cocok untuk menjadi pemakan tumbuh-tumbuhan.

 

 
 

Mitos yang Salah Tentang Vegetarian


(Oleh Prasasto Satwiko)
Banyak sekali logika semu dan mitos di sekitar kita yang dibangun turun temurun dengan atau tanpa bantuan pendekonstruksi pikiran seperti telah kita bahas. Logika semu dan mitos tersebut antara lain:
· Jika orang tidak makan daging maka industri daging akan hancur dan ekonomi akan bermasalah. Fakta: hukum ekonomi sederhana adalah tentang supply dan demand. Memang sistem perekonomian tidak dapat diubah seketika, namun jika tidak ada peminat, maka penyedia daging akan menyesuaikan dengan komoditas yang diperlukan. Beralih profesi adalah hal yang biasa. Kita melarang ganja yang berbahaya dan yakin bahwa petani ganja dapat beralih profesi. Kita dapat melarang rokok, karena petani tembakau tentu dapat mencari alternatif lain. Kita dapat berhenti makan daging (menyumbang lebih banyak kasus penyakit daripada rokok) karena yakin peternak dapat mencari profesi lain, atau dibantu mencari profesi lain. Bertahun-tahun kita tahu bahwa nelayan hidup pas-pasan karena hasil mencari ikan di laut tidaklah sebanding dengan risiko serta energi yang dikeluarkan. Mengapa kita tidak membantu mencarikan alternatif profesi? 
· Beralih dari menu berbasis daging ke nabati tidaklah ‘realistis’. Fakta: ada perbedaan antara ‘realistis’ dan ‘lumrah’. Justru makan daging yang boros energi dan merusak lingkungan di saat ini amatlah tidak ‘realistis’. Memang beralih ke makanan nabati belum ‘lumrah’ karena kebiasaan tersebut telah kita lalui ribuan tahun. Adalah tanggung jawab kita saat ini yang dapat berpikir maju, untuk memperbaiki kebiasaan salah tersebut demi generasi selanjutnya.  
· Jika tidak ada pemakan daging, maka bumi akan dikuasai oleh sapi, ayam dan babi. Fakta: ini sebenarnya lebih bersifat logika bercanda, karena kita tahu yang kita makan adalah hewan yang kita ternakkan, kita paksa lahir, dan kita paksa mati. Bumi tidak dikuasai kecoa walau manusia tidak makan kecoa.
· Jika tidak makan daging, tubuh akan lemas. Fakta: tubuh membiasakan diri terhadap makanan. Dalam satu dua hari mungkin akan terasa lemas karena tubuh mengharapkan daging, namun dalam tiga empat hari berikutnya tidak akan lagi bermasalah. Mirip perokok yang tiba-tiba berhenti merokok, mungkin akan merasakan perasaan aneh. Tubuh lemas atau tidak adalah bersifat individual, tidak semua lemas, banyak juga yang biasa-biasa saja, bahkan banyak di antaranya yang sengaja mengamati perubahan yang dirasakan. Energi dari sumber makanan nabati cukup.
· Jika tidak makan daging, tubuh akan kekurangan gizi. Fakta: ahli nutrisi menyatakan menu nabati cukup gizi. Jika ada kekurangan, seperti vitamin B12 misalnya, dengan mudah diatasi.  Kekurangan yang ada pada makanan berbasis nabati hanya bersifat minor (mudah diatasi) dibandingkan dengan keuntungan yang besar.
Perbandingan kandungan antara 100 gram tempe dan daging. Protein dalam tempe sebanding dengan protein dalam daging ternak. (Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan, RI, 1992 seperti dikutip oleh Susianto, Ahli Gizi, pada presentasi “Vegetarian Gaya Hidup Sehat Alami – Back to Nature”)
· Jika tidak makan daging, anak laki-laki tidak akan jantan dan kuat seperti singa. Fakta: ini pun logika yang lebih bersifat guyonan dan dapat dijawab dengan guyonan juga karena sebenarnya tubuh hewan tidaklah sama dengan tubuh manusia. Misalnya tokh dianggap sama, maka kita dapat mengingat kembali bahwa gajah lebih kuat daripada singa, kelinci lebih ‘nakal’ (beranak sering dan menjadi simbol playboy) daripada singa, kijang berlari lebih cepat daripada singa. Jika marah, maka kuda nil dapat meremukkan tulang manusia lebih cepat daripada singa. Dan jangan lupa, singa suka tidur setelah makan, sedang kuda akan terus menarik pedati.
· Jika tidak makan daging, baiklah kita makan ikan. Fakta: sejak 1900, kita telah menguras ikan di laut dari Kutub Utara hingga Kutub Selatan dengan angka fantastis, banyak spesies berpotensi berkurang hingga 90%.  Industri perikanan telah benar-benar menghancurkan satwa laut dan menyebabkan kesia-siaan, karena banyak dari hasil tangkapan ternyata terbuang. Jangan lupa pula bahwa laut menjadi buangan akhir dari limbah manusia, penuh polutan. Polutan yang terakumulasi di daging ikan dapat mencapai 9 juta kali dari kadar polutan di air tempatnya hidup, dan menurut Centers for Disease Control and Prevention, 325.000 orang sakit dan meninggal setiap tahun karena mengonsumsi ikan dan hewan laut lainnya yang telah terkontaminasi.
· Menu nabati dapat membuat orang-orang bodoh. Fakta: ini mitos bercanda karena kenyataan menunjukkan para pemikir banyak menganut menu nabati seperti Phytagoras (terkenal dengan diet nabati phytagorean), Socrates, Plato, Isaac Newton, Leonardo da Vinci, Albert Einstein, Charles Darwin dan masih banyak lagi. Para cerdik pandai sudah lama tahu bahwa makan daging tidaklah alami.
· Makan daging adalah pilihan asasi yang tidak akan dapat dinilai benar/salah. Fakta: ‘pilihan’ akan menjadi pilihan ketika tidak ada konsekuensi negatif bagi diri sendiri atau orang lain. Merokok, misalnya, adalah ‘pilihan salah’ karena rokok terbukti mengandung racun yang merusak diri sendiri dan mengganggu orang di sekitar perokok. Pelarangan merokok di tempat umum telah diatur dalam undang-undang. Konsumsi daging menimbulkan industri daging yang sangat merusak lingkungan yang tidak hanya akan ditanggung oleh para pemakan daging namun juga mereka yang tidak makan daging. Mereka yang disebut belakangan ini berhak untuk memperoleh jaminan akan lingkungan yang baik. MEAT! Now, it’s not personal! But like it or not, meat eating is becoming a problem for everyone on the planet.
· Makan daging tak berlemak itu sehat. Fakta: daging memiliki prekursor asam, salah satu pembeda protein hewani dan nabati. Sumber hewani dapat meningkatkan pembuangan (ekskresi) kalsium dalam urin. Sumber hewani baik tak berlemak maupun berlemak bukan sumber makanan yang dibutuhkan tubuh.(Deborah E Sellmeyer, Katie L Stone, Anthony Sebastian, and Steven R Cumming, “A High Ratio of Dietary Animal to Vegetable Protein Increases the Rate of Bone Loss and The Risk of Fracture in Postmenopausal Women”, Am J Clin Nutr 2001 73: 118-122) 
· Hubungan konsumsi daging dengan krisis energi, kerusakan alam, dan pemanasan global adalah akal-akalan aliran vegetarian. Fakta: mungkin memang benar bahwa kaum vegetarian bersemangat memakai isu hubungan antara makan daging (peternakan) dengan krisis energi, kerusakan lingkungan dan global warming. Namun, koneksi itu didukung oleh hasil-hasil penelitian organisasi-organisasi prestitisius seperti NASA dan FAO yang sama sekali tidak ada urusan dengan vegetarian.
· Daging lebih sedikit mengandung pestisida dibandingkan dengan sayuran, jadi lebih aman. Fakta: daging justru mengandung lebih banyak racun daripada sayuran. Menurut Harvey Diamond, kandungan pestisida pada makanan hewani adalah 9 kali lebih tinggi dibanding dalam sayur dan buah.
Tidak seperti anggapan umum, ternyata daging mengandung lebih banyak residu pestisida dibanding sayuran. (P E Cornellussen, “Pesticide Residues in Total Diet”, Pesticides Monitoring Journal, 2:140-152, 1969 dalam John Robbins, (a), h.317)
· Kalau tidak ada kotoran ternak, pupuk organik tidak dapat dibuat. Fakta: pupuk organik dapat dibuat dari limbah dapur dan dedaunan. Untuk sawah, misalnya, pola tanam pad -padi - palawija sangat baik karena menjaga tanah cukup zat hara.
· Kalau industri peternakan merusak, maka kita dapat makan daging hewan yang berkeliaran di halaman. Fakta: jelas jumlah hewan yang berkembang biak alami, seperti ayam kampung yang kita biarkan berbiak alami di pekarangan kita, tidak akan mencukupi sehingga, lagi-lagi, akan mendorong industri peternakan.
· Berhenti makan daging dan menjadi pemakan tumbuhan tidak membebaskan manusia dari membunuh, karena tumbuhan juga kehidupan. Fakta: sejak awal evolusinya manusia menjadi bagian dalam sistem kehidupan bumi dan tanamanlah yang menjadi sumber makanan alami mereka. Struktur tubuh manusia disiapkan sebagai pemakan tumbuhan. Ketika manusia beralih ke menu daging (bukan menu alami mereka) maka mulailah penyakit kanker dan kardio-vaskular menghebat.
· Perikanan darat paling cocok dan aman untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia. Fakta: perikanan darat memberi dampak negatif kepada lingkungan seperti perebutan dan pencemaran air, gangguan biodiversitas, bahkan masalah tanah. Dampak tersebut tidak akan terlihat bila kita tidak melihat secara sistem.